INTERNET ADDICTION DAN PENANGANANNYA
1. INTERNET
ADDICTION (KECANDUAN
INTERNET)
Seiring dengan perkembangan
teknologi di era globalisasi ini, masyarakat dituntut untuk menguasai berbagai
aspek kehidupan dimana hal tersebut berkaitan erat dengan penggunaan internet.
Internet memiliki berbagai manfaat dalam kehidupan manusia terutama yang berhubungan
dengan ruang dan waktu.
Namun internet tidak hanya membawa
dampak positif melainkan juga negatif. Salah satunya adalah internet addiction.
Ferris (1997) mengungkapkan bahwa internet addiction, sebagaimana addiction lainnya, merupakan
suatu gangguan psikofisiologis yang meliputi tolerance (penggunaan dalam jumlah sama akan menimbulkan
respon minimal, jumlah harus ditambah agar dapat membangkitkan kesenangan dalam
jumlah yang sama), withdrawal symptom (menimbulkan tremor,
kecemasan, dan perubahan mood), gangguan afeksi (depresi dan sulit menyesuaikan
diri), serta terganggu hubungan sosial (menurun atau hilang sama sekali, baik
dari segi kualitas maupun kuantitas).
Internet
addiction meliputi
segala kegiatan yang berhubungan dengan internet seperti jejaring sosial, email, chatting, game online,
dan sebagainya.
Internet
Addiction Disorder (IAD) belum
tercantum dalam buku pegangan profesional kesehatan mental edisi keempat (2000)
atau DSM-IV. Namun, kecanduan
internet diaku secara formal sebagai sebuah gangguan oleh American Psychological Association.
Dari penjelasan tersebut dapat
disimpulkan bahwa kecanduan internet merupakan sebuah gangguan yang terjadi
pada seseorang dalam hal penggunaan internet seperti chatting, email, game online, browsing, social media, dan
sebagainya, dimana orang tersebut tidak dapat mengendalikan waktu pemakaian
internet yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan terutama dalam hubungan
sosial.
Griffiths (2005) mencantumkan enam
dimensi internet addiction ;
- Salience terjadi saat penggunaan internet menjadi aktivitas paling penting dan mendominasi pikiran, perasaan, serta tingkah laku individu.
- Mood modification perasaan senang berlebih ketika menggunakan internet.
- Tolerance adalah proses peningkatan jumlah penggunaan internet untuk mendapat efek perubahan mood.
- Withdrawal symptoms merupakan perasaan tidak senang yang timbul saat penggunaan internet dikurangi.
- Conflict terjadi karena terlalu banyaknya waktu yang dihabiskan dalam menggunakan internet dan dapat terjadi secara interpersonal maupun intrapersonal.
- Relapse terjadi saat individu kembali bermain internet saat belum sembuh dari addiction nya tersebut.
Young, Pistner, O'mara, &
Buchanan (1998) menggolongkan kecanduan internet menjadi ;
- Cybersexual addiction.
- Cyber-relational addiction.
- Net compulsion.
- Information overload.
- Computer addiction.
2. PENANGANAN INTERNET ADDICTION
Terdapat beberapa cara yang dapat
digunakan untuk mengatasi kecanduan internet, salah satunya adalah dengan
menggunakan penanganan kecanduan secara umum, pemberian obat anti-depresan atau
anti-kecemasan, terapi, dan yang terpenting adalah dukungan keluarga.
Tujuh perawatan yang mungkin
dilakukan menurut Young (1999), yaitu:
- Praktekkan kebalikannya (Practice the opposite)
- Penghenti eksternal (External stoppers)
- Tetapkan goal (Setting goals)
- Kartu-kartu pengingat (Reminder cards)
- Inventori personal (Personal inventory)
- Dukungan sosial (Social support)
- Terapi keluarga (Family therapy)
Selain itu dapat juga
diterapkan Terapi Kognitif Perilaku (CBT) telah menjadi metode
yang berguna dan efektif untuk menangani gangguan kompulsif seperti
gangguan ledakan emosi, judi patologis, trichotillomania.
Terapi
kognitif dan perilaku (CBT) adalah salah satu cabang psikoterapi yang bertujuan untuk mengubah
proses pola pikir (kognitif) serta perilaku Anda jadi lebih baik. Dalam terapi
ini, klien akan bertatap muka dengan terapis untuk menggali akar permasalahan
yang dihadapi. Setelah itu, klien dan terapis akan bekerja sama untuk mengubah
pola pikir dan perilaku klien sesuai target yang diharapkan.
Sebagai contoh, seseorang internet addiction tidak bisa melepaskan diri dari
internet, terutama ketika sedang dilanda stres. Dalam CBT, terapis akan
mengajak klien untuk menyadari bahwa pola pikirnya, yaitu internet bisa melepas
stres, adalah pola pikir yang salah dan perlu diubah. Setelah itu, klien akan
dilatih untuk membentuk perilaku baru yang positif untuk menggantikan perilaku
lama yang merugikan. Daripada bermain internet, klien tersebut akan dibiasakan
untuk berolahraga ringan dan mengambil napas dalam saat stres menyerang. Hal
ini dilakukan dengan berbagai teknik, mulai dari bercerita pada terapis,
menulis buku harian, atau melakukan relaksasi.
CBT adalah perawatan yang sudah
lazim dan didasarkan pada premis bahwa pikiran mengendalikan perasaan. Pasien
diajar untuk memantau pikiran-pikiran mereka dan mengidentikasikan mana yang
memicu perasaan dan tindakan kecanduan, sementara mereka belajar ketrampilan
menanggulangi kecanduan tersebut serta cara-cara untuk mencegah kambuh
(relapse).
Source:

0 komentar: